Rasa
yang Tersesat
Aku melempar rokok yang baru
setengah batang terhisap dan menginjaknya tanpa ampun. Melihat rokok yang sudah
rata bersama aspal lantas membuatku tersenyum pahit. Sebuah pemikiran tiba-tiba
terlintas kala aku tengah menikmati perjalanan pulang dari kampus, seperti sore
ini. Ada persamaan antara aspal dan hatiku. Sama-sama kaku. Setidaknya itu
menurut seseorang yang selama 6 tahun sudah setia berada disisiku. Orang itu
adalah Tommy, dan dia bukan pacarku.
Aku memandang langit yang mulai gelap
sambil mempercepat langkah menuju perpustakaan mini yang tak jauh dari kampus.
Hampir setiap sore aku menyempatkan diri untuk singgah ke perpustakaan itu.
Bukan untuk membaca, melainkan untuk bertemu dengan Vina, gadis yang selama ini
aku cintai. Aku menatap kemejaku yang mulai penuh dengan rintikan hujan, namun
itu tak membuatku berlari. Perpustakaan itu masih berjarak kira-kira 100 meter
lagi. Aku membiarkan hujan membasahi rambut dan seluruh tubuhku, berharap hujan
ini juga mampu menyegarkan pikiranku.
Vina sudah duduk di kursi
pojokan perpustakaan, posisi favorit kami. Disana kami bisa mengobrol dengan
leluasa, tanpa mengganggu pengunjung perpustakaan yang lain.
“Sudah lama?” Aku bertanya
sambil mengambil posisi duduk dihadapannya.
Seperti biasa, Vina tidak banyak
bicara. Ia menjawab pertanyaanku dengan gelengan singkat. Aku tersenyum dan
menatap ke luar jendela. Hujannya sangat deras, dan kelihatannya juga akan
lama.
“Kenapa basah kuyup seperti ini?
Kamu nggak berteduh?” tanya Vina sembari mengamatiku dari ujung rambut hingga
ujung kaki.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak mau kamu
menunggu lama.”
Vina menghela napas.
“Aku malah khawatir kalau kamu seperti
ini.”
Aku tersenyum mendengarnya.
Inilah yang membuat aku begitu menyayangi Vina, rasa perhatian dan
pengertiannya. Dia tidak seperti wanita kebanyakan yang manja dan menuntut
ini-itu.
Aku
mengalihkan perhatianku ke sekeliling perpustakaan. Lagi-lagi, aku mendapatkan
tatapan aneh dari para pengunjung, terutama penjaga perpustakaan. Aku tidak
mengerti apa yang salah dariku. Setiap kali aku dan Vina mengobrol, beberapa
pasang mata kadang mengawasiku. Apakah
tampangku seperti orang jahat yang akan menyakiti Vina? Atau mungkin mereka
sangat terpesona dengan Vina. Ya, kecantikan Vina memang luar biasa. Tapi bukan
itu satu-satunya alasan yang membuatku menyukainya.
“Menurut kamu, apa yang salah
dari kita?”
Vina mengangkat sebelah alisnya.
Aku tahu dia belum memahami maksud dari pertanyaanku.
“Kamu nggak merasa risih dengan
tatapan mereka?” tanyaku hati-hati.
Kali ini Vina tersenyum. “Enggak.”
“Bagus kalau gitu,” gumamku
sambil membolak-balik halaman buku yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
“Permisi.”
Aku menoleh pada seseorang yang
berdiri disebelahku.
“Iya, ada apa Mbak?”
“Kamu baik-baik aja kan? Hmm
maksud saya kamu sehat kan?”
Aku mengerutkan dahi ke arah
perempuan itu. Ekspresinya sangat aneh, seperti orang yang kebingungan. Aku
sendiri belum pernah bertemu dengan perempuan ini sebelumnya. Sikapnya yang
aneh dan menodongku dengan pertanyaan seperti itu cukup membuatku kaget.
“Eemm saya tidak sakit Mbak,
saya sehat bugar. Kalau saya sakit nggak mungkin saya datang kesini.”
“Maksud saya…bukan...itu..hmm
tapi syukurlah kalau kamu baik-baik aja.” Perempuan itu langsung meninggalkan
perpustakaan. Aku menggeleng dan mengalihkan pandanganku ke depan. Bangku yang
ditempati Vina tadi tiba-tiba kosong. Aneh sekali melihat Vina yang tiba-tiba
menghilang secepat itu. Rasanya percakapan antara aku dan perempuan tadi
tidaklah lama, dan bagaimana mungkin aku tidak menyadari kepergian Vina.
Aku menatap ke luar jendela.
Ternyata hujannya sudah berhenti dan menyisakan titik-titik air yang jatuh dari
atap. Vina tak kunjung kembali, dan aku sudah terbiasa dengan kebiasaannya yang
menghilang begitu saja. Aku bergegas pergi, pergi dari perpustakaan yang aneh
ini.
*****
Motor Tommy sudah terparkir di
depan rumahku ketika aku baru saja pulang dari perpustakaan. Aku masuk dan
menemukan Tommy sedang ngopi di ruang tamu.
“Ngapain kamu disini?”
“Yaelah Rik, numpang berteduh
bentar doang, hehehe,” sahut Tommy.
“Terus apa maksudnya cengiran kamu
itu?”
“Hehhehe, aku baru jadian, Rik.”
Kali ini cengiran Tommy makin lebar.
“Ooh, selamat kalau gitu.”
“Makasih,” Tommy menyesap
kopinya kembali. “Eh, darimana aja Rik? Kok baru pulang jam segini?”
“Ke perpustakaan, ketemu…”
“Vina?” sambar Tommy.
Aku mengangguk sambil tersenyum,
sementara Tommy menghempaskan tubuhnya ke sofa.
“Rik, mau sampai kapan kayak
gini? Kapan kamu mau sadar hah?”
“Sadar apanya? Aku sadar Tom.
Aku sehat.”
“Harus berapa kali aku bilang,
Vina itu nggak…”
“Udah lah Tom, aku nggak mau
membahas itu.” kataku sambil beranjak ke depan pintu rumah. “Hujannya udah
berhenti,” gumamku singkat. Tommy yang mengerti akan maksudku pun beranjak dari
sofa.
“Aku khawatir liat kamu kayak
gini terus Rik.”
“Nggak ada yang perlu
dikhawatirkan, aku baik-baik aja.”
Tommy mengacak rambutnya
frustasi. Itu adalah salah satu reaksinya saat kami membicarakan Vina. Tidak
hanya dia yang bereaksi seperti itu. Orang-orang di sekitarku juga berubah
menjadi aneh sejak satu tahun terakhir ini. Semua orang mengatakan bahwa aku
sakit. Hanya dua orang di dunia ini yang percaya bahwa aku sehat, yaitu ibu dan
Vina.
“Terserah deh Rik. Aku mau
pulang. Bilang ke ibu kamu makasih buat kopinya.” Tommy melesat dengan
motornya. Aku menutup pintu dan menemukan ibu sudah berdiri di belakangku.
“Bu, Tommy bilang makasih buat
kopinya.”
Ibu mengangguk singkat padaku.
“Ibu tadi nggak sengaja dengar
pembicaraan kamu sama Tommy. Kamu…tadi benar ketemu dengan Vina?”
“Iya Bu,” jawabku sambil
tersenyum.
Ibu tidak membalas senyumku dan
malah menangis sesegukan.
“Ibu kenapa?” tanyaku sambil
mengusap air mata ibu.
Bukannya menjawab, ibu malah
pergi dan masuk ke dalam kamar. Aku tidak mengerti kenapa orang-orang menjadi
aneh seperti itu.
*****
Vina berjalan didepanku. Aku berusaha menyamakan langkah agar bisa
beriringan dengannya. Pagi ini cukup dingin, dan aku tidak menyangka bertemu
Vina di tengah jalan menuju kampus.
“Selamat pagi cantik.”
Vina menatapku sambil memamerkan senyum manisnya.
“Kamu masuk pagi Rik?”
“Iya.” Aku membelai rambut Vina. “Kenapa kemarin kamu pergi begitu
saja dari perpustakaan?”
“Aku mau menemui seseorang. Aku lupa kalau aku memiliki janji sore
itu.” Vina menatapku ragu-ragu.
“Terus sekarang ngapain kamu keluar pagi-pagi gini?”
“Aku tahu kamu merindukanku, makanya aku datang.” Vina tersenyum
sekali lagi.
“Ya, setiap detik aku selalu merindukan kamu. Anehnya, setiap kali
aku memikirkanmu, kamu selalu hadir, seperti sekarang ini.”
“Kamu pasti bingung dengan keadaan di sekitar kita. Semua orang
terlihat aneh bukan?”
Vina melanjutkan langkahnya. Aku mengikutinya dari belakang dengan
dahi mengerut. Ternyata tidak hanya aku yang merasakan keanehan ini.
“Iya, semuanya berubah. Semuanya menjadi aneh.”
“Mereka tidak berubah Riki. Kamulah yang berubah.”
Aku menghentikan langkah. Vina melanjutkan.
“Nanti kamu akan tahu jawaban dari semua ini. Ya udah, aku pergi
dulu. Sampai ketemu nanti di kantin.” Vina langsung berlari dan hilang begitu
saja, seperti kebiasaannya.
*****
Aku bergegas menuju kantin saat
dosen sudah mengakhiri kuliah pagi ini. Tiba-tiba Tommy datang bersama perempuan
yang mendatangiku saat di perpustakaan sore kemarin.
“Siapa ini Tom?”
“Ini Tashia, pacar baru aku,”
jawab Tommy malu-malu.
Aku mengangguk singkat pada
perempuan itu.
“Mau kemana buru-buru Rik?”
“Mau makan bareng Vina. Ya udah,
aku duluan Tom.”
“Tunggu Rik.” Tommy menahan
lenganku. Tatapannya berubah tajam. Aku mendengar nada yang berbeda dari suara
Tommy.
“Harus gimana lagi caranya aku
nyadarkan kamu hah? Sadar Rik! Vina itu udah pergi!”
“Apa maksud kamu hah? Aku heran
Tom, kenapa kamu selalu mempermasalahkan Vina? Kenapa kamu selalu nyuruh aku
sadar hah? Kamu suka sama Vina?”
Buuukkk! Tommy tiba-tiba menghantam
wajahku dengan pukulannya. Aku terhuyung ke belakang sambil mengusap tulang
pipi yang terasa kebas.
“Kamu yang bermasalah Rik! Udah
setahun lamanya kamu kayak gini!”
“Kayak gimana maksudnya hah?”
Aku menarik kerah baju Tommy.
“Kayak orang gila! Kamu bilang
kamu ngomong sama Vina kan? Bukan! Kamu ngomong sendiri! Kamu bilang kamu jalan
sama Vina? Heh, bukan! Kamu jalan sendiri! Kamu bilang mau makan sama Vina? Cuih,
kamu makan sendiri Rik! Sendiri! Vina tuh udah pergi! Vina udah memulai hidup
baru bersama suaminya disana! Dia bahagia! Dan kamu, kamu sendirian disini
kayak orang gila! Melakukan hal-hal bodoh karena Vina!”
Aku mencengkeram kerah baju
Tommy lebih kuat.
“Sadar Rik! Kamu nggak tahu kan,
penjaga perpustakaan itu sudah berulang kali cerita tentang sikap kamu ke aku.
Kamu yang selalu berbicara sendiri, kamu yang tiba-tiba tertawa sendiri, kamu
yang selalu menatap bangku kosong di depan kamu. Semuanya Rik! Kamu juga nggak
tahu kan, gimana sedihnya ibu kamu melihat kamu setiap hari. Kamu nggak tahu
kan sehabis kamu bercerita tentang Vina ke ibu kamu, ibu kamu selalu menangis!
Setiap kamu cerita kalau kamu jalan sama Vina lah, makan sama Vina lah, ibu
kamu tuh nangis liat kelakuan kamu kayak gini! Dan ibu kamu selalu cerita ke
aku Rik! Berapa lama lagi kamu mau nyakitin ibu kamu hah? Berapa lama lagi kamu
mau sadar? Sampai kapan Rik? Jawab aku!”
Aku melepaskan cengkeramanku.
Aku tidak percaya kalau Vina benar-benar tidak ada. Aku tidak percaya kalau
selama ini aku hanya sendiri dan melakukan hal bodoh seperti yang dikatakan
Tommy. Sekarang aku tahu alasan kenapa ibu selalu menangis setiap kali aku
bercerita tentang apapun yang aku lakukan bersama Vina. Aku berjongkok sambil
meremas rambutku. Aku sudah melangkah terlalu jauh. Dalam diam aku mendengar
percakapan Tommy dan Tashia.
“Kelihatannya dia sangat
mencintai Vina, Tom.”
“Sangat, dia sangat menyanyangi
Vina. Vina adalah juniornya di sekolah. Sejak SMA, Riki sudah menyukai Vina. Vina
termasuk salah satu siswi yang tercantik di sekolah kami, tapi bukan itu yang
menyebabkan Riki menyukainya. Tapi sikap Vina yang apa adanya, baik, dan
pengertian, itulah yang disukai Riki. Dia mencari tahu semua tentang Vina. Dia
tahu apapun tentang Vina. Dia juga termasuk orang yang cukup dekat dengan Vina.
Hingga suatu hari dia pernah cerita ke aku bahwa saat Vina lulus SMA nanti, dia
akan menyatakan perasaannya kepada Vina. Aku tahu betapa sabarnya Riki menunggu
Vina selama satu tahun. Aku tahu usaha dan perjuangannya dalam mempersiapkan
segalanya untuk satu hari itu. Lalu saat hari itu tiba, Vina malah memberitahunya
bahwa ia akan segera tunangan. Riki sangat terkejut mendengar hal itu, bahkan
ia belum sempat menyatakan perasaannya kepada Vina. Yang paling menyakitkan
adalah perkataan Vina bahwa Riki adalah orang pertama selain keluarganya yang
tahu tentang rencana pertunangannya.”
“Ya ampun. Riki pasti sangat
terpukul mendengar kabar itu.”
“Dia tidak marah sama sekali di
depan Vina. Dia membalas ucapan itu dengan senyuman. Tapi yah, setelah itu Riki
menjadi sering berhalusinasi, membayangkan Vina selalu berada disampingnya.”
“Terus sekarang Vina ada dimana?
Apa dia benar sudah menikah?”
“Ya, Vina sudah menikah,
tepatnya 4 bulan setelah kejadian itu, dan sekarang dia tinggal bersama suaminya di
Bandung.”
“Kamu kok bisa tahu tentang Vina
sedetail itu?”
“Karena…”
“Karena Tommy adalah abangnya
Vina,” potongku sambil berdiri dan menatap Tommy. “Makasih udah menyadarkan
aku, Tom. Aku tahu, Vina bukan takdirku. Aku memang bodoh. Tapi aku tidak
pernah menyesal mencintai adikmu.”
“Aku tahu. Tapi sebenarnya aku
punya alasan lain kenapa aku berusaha keras menyadarkan kamu, Rik.”
“Apa?”
Tommy memamerkan cengirannya.
“Karena…aku nggak mau punya teman yang nggak waras.”
“Sialan!”
-Tamat-

Komentar
Posting Komentar