#Jurnal Edelweis



Gadis Kecil Penjual "Kue Tjoebit"




Kali ini Edelweis ingin berbagi cerita, sebuah drama singkat yang cukup membuat hati Edelweis terenyuh. Bukan drama di tv, tapi sepenggal kisah nyata di tepi jalan.
Sejak beberapa hari yang lalu, Edelweis ingin sekali pergi ke bioskop untuk menonton film terbarunya Tom Cruise, yakni Mission Impossible. Tapi setiap harinya adaaa aja halangan buat pergi. Akhirnya, malam ini Edelweis dan adek diberi kesempatan buat pergi. Rasanya seneng banget, pengen cepat-cepat update path “Watching Mission Impossible at XXI cinema with adek” biar kekinian kayak temen-temen, halaaaah hahaha. Baru beberapa menit berjalan, hujan pun tiba-tiba mengguyur dengan derasnya. Alhasil kami pun menepikan kendaraan (read:motor) dengan perasaaan kesal menuju beberapa ruko yang sudah tutup. Tapi mengingat cerita Edelweis mengenai hujan (akan di posting di waktu mendatang), perasaan kesal itu bisa dihilangkan. Dan kebetulan saat itu lagi mati lampu, jalanan pun gelap dan bingung untuk memilih ruko yang mana untuk berteduh. Seram juga kan kalau gelap-gelapan, hujan, sendirian, duuh jones banget. Tapiii, ada satu ruko yang terang, dan pastilah itu menjadi ruko pilihan Edelweis buat singgah.
Cahaya itu bukan berasal dari ruko itu, tapi berasal dari sebuah gerobak kecil yang bertuliskan “Kue Tjoebit”. Sembari menunggu hujan berhenti, Edelweis melihat gerobak kecil itu. Gerobak kecil yang kehujanan itu hanya dihiasi oleh sebuah lampu. Semua bahan dan alat-alat untuk membuat kue cubit itu ditutupi dengan plastik agar tidak basah. Mungkin sudah lama menunggu namun tidak ada yang membeli, jadi semuanya ditutup dengan plastik. Namun tetap saja terkena hujan karena atap gerobak itu benar-benar pas hanya menutupi gerobak. Edelweis pun penasaran dengan keberadaan penjual kue tjoebit itu. Gerobak kecil itu dibiarkan saja kehujanan di tepi jalan. Setelah melihat ke sekeliling, ternyata penjualnya adalah seorang gadis kecil. Usianya mungkin sekitar 12 tahun. Edelweis mencoba mencari-cari orang lain yang mungkin adalah penjual sebenarnya. Hasilnya adalah nihil. Gadis kecil itu memang penjualnya. Sendirian. Di tengah hujan.
Edelweis kembali melihat kearah jalan sambil berpikir kira-kira berapa lama lagi hujan akan berhenti. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di tepi jalan, tepat di depan gerobak kecil “Kue Tjoebit”. Edelweis pun mengutarakan apa yang ada di benak Edelweis saat itu kepada adek.
“Dek, orang didalam mobil ini pasti mau beli kue cubit. Gimana ya adek penjualnya itu membuatkan kue cubitnya? Hujannya deras kali, atap gerobaknya pas-pasan melindungi gerobaknya aja. Pasti kehujananlah adek tu saat membuat kue cubitnya.”
Pembicaraan kami terpotong oleh sebuah suara yang memanggil-manggil “deek,adeek”. Edelweis pun melihat ke sumber suara yang ternyata suara seorang mbak-mbak dari dalam mobil itu.
“Deek, tolong panggilin adek penjual itu.”
Edelweis melihat kearah gadis kecil penjual kue cubit itu yang memang sedang melamun. Edelweis pun memanggilnya.
“Dek, adeek.” Edelweis sedikit berteriak karena suara hujan cukup menenggelamkan suara Edelweis.
Gadis kecil itu menoleh dengan ekspresi bingung.
“Adek dipanggil sama orang yang didalam mobil itu.”
Ia pun menoleh kearah mobil, dan ternyata kaca mobil itu sudah tertutup. Ia kembali melihat kearah Edelweis dengan tatapan “kakak mau mempermainkan saya ya?”
Buru-buru Edelweis berkata, “Tadi dipanggil, beneran deh.” Gadis itu pun berdiri sambil melongok kearah mobil itu. Edelweis jadi kesal dengan orang yang berada di mobil itu. Orang itu beneran mau beli atau nggak sih?
Tiba-tiba adek Edelweis berkata, “Kalau orang itu mau beli, memanglah ya, nggak ada rasa kasian sama sekali berarti.”
“Kok kasian?”
“Iya, seperti yang kakak bilang tadi, kasian lah adek yang menjual kue cubit itu harus masakin kue cubit sambil hujan-hujanan. Atapnya cuma buat gerobak. Harusnya orang yang mau beli itu mikir dan liat keadaannya. Kalau adek, nggak akan mau beli kue cubitnya.”
Edelweis tidak menjawab, karena tiba-tiba kaca mobil terbuka kembali. Dari dalam mobil, pembeli itu mengatakan sesuatu yang tak terdengar, karena hujannya cukup lebat. Tapi dia mengangkat 4 jarinya, yang siapapun bakal mengerti kalau dia mau pesan 4. Tapi yang membuat Edelweis cukup kesal adalah pembeli itu tidak mau berusaha turun dari mobil, padahal ia sadar kalau suaranya tak terdengar oleh gadis penjual kue cubit itu. 4 disini maksudnya 4 buah atau 4 porsi? Dan pembeli itu mau pesan rasa apa?
Mungkin pertanyaan itulah yang membuat sang gadis kecil penjual kue cubit itu berusaha berjalan di derasnya hujan mendekati sang pembeli yang masih setia duduk di dalam mobil. Setelah mendapatkan pesanan apa yang diinginkan dari pembeli itu, gadis kecil itu berlari kembali ke beranda ruko, tempat ia duduk tadi. Beranda ruko inilah yang beratap, dan Edelweis berteduh tepat disebelah beranda ruko itu.
Gadis kecil itu memandang ke langit sambil berpikir bagaimana caranya memasak ditengah derasnya hujan. Edelweis benar-benar merasakan kegalauan gadis itu. Akhirnya gadis itu melawan hujan dan berjalan menuju gerobak kecilnya di tepi jalan. Ia membuka plastik-plastik yang menutupi kotak-kotak adonan kue cubit itu. Rasa iba benar-benar mencengkram hati Edelweis. Tiba-tiba sang pembeli keluar dari mobil sambil memakai payung. Edelweis sedikit lega, karena akhirnya sang pembeli punya sedikit hati nurani. Setidaknya ia mau memayungi gadis kecil itu. Tapi ternyata tidak. Setelah turun, ia memayungi dirinya sendiri, dan ia baru mengeluarkan pertanyaan yang seharusnya ia keluarkan diawal sebelum ia memesan kue cubit itu. “Bisa buatnya dek?”
Miris. Edelweis sangat kecewa melihat mbak-mbak pembeli kue cubit itu. Rasanya ingin sekali Edelweis menghentikan gadis kecil itu untuk membuat kue cubit dan menyuruh pembeli itu untuk pergi. Namun niat Edelweis tak terwujud ketika itu Edelweis melihat gadis kecil itu mulai melepas ganjalan roda gerobaknya dan ingin menggeser gerobaknya ke tempat yang teduh, yang tidak terkena hujan. Mungkin gadis kecil itu tak sanggup harus memasak kue cubit di tengah derasnya hujan.
Edelweis sudah tak tahan lagi. Edelweis langsung berlari kearah gadis kecil itu dan membantunya menggeser gerobak yang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan tubuh gadis itu sendiri. Tak hanya Edelweis, ternyata ada seorang pemuda yang juga berlari membantu gadis itu menggeser gerobaknya. Untung saja ada pemuda itu, karena ternyata berat gerobak kecil itu tak seringan yang dibayangkan. Edelweis tak bisa membayangkan bagaimana bila gadis kecil ini sendirian menggeser gerobaknya.
Lalu bagaimana dengan pembeli itu? Masih sama. Diam tak membantu. Ia hanya mengulang pertanyaan yang sama. “Bisa nggak dek?” “Bisa nggak?” . Pfffftt dia pikir dengan pertanyaan itu bisa membantu gadis kecil itu menggeser gerobaknya? -___-
Setelah mendapatkan posisi yang tepat, gadis kecil tadi berterimakasih kepada orang yang telah menolongnya. Ia pun mulai memasak kue cubit pesanan pembeli itu. Di tengah-tengah memasak, pembeli itu menyerahkan uang 50 rb kepada gadis kecil itu.
“Berapa jadinya? Nih uangnya.”
“Maaf Kak, ada uang kecil? Tidak ada kembaliannya.”
“Yah, nggak ada pula ni, kakak belanja dulu kesana ya, sambil nukarin uang, nggak papa kan?”
“Iya, nggak papa.”
Pembeli itu pun pergi begitu saja. Gadis kecil itu terus memasak tanpa memikirkan apakah pembeli itu benar-benar akan membeli kue cubitnya atau bagaimana bila ia ditipu? Ia tampak tak memikirkan soal itu.
Tak lama kemudian, ada seorang ibu-ibu yang datang dan ingin membeli kue cubit gadis itu. Ia pun tersenyum dan mengangguk mendengar pesanan ibu tersebut.  Edelweis jadi ikutan lapar mencium wangi kue cubit itu. Alhasil, Edelweis juga memesan satu porsi kue cubit itu, namun ternyata gadis kecil itu berkata sambil tersenyum “Adonannya udah abis kak, nggak cukup lagi untuk kakak.”
Edelweis tersenyum sambil menjawab, “iya, nggak papa.”
Sedikit kecewa sih tidak bisa mencicipi kue cubit buatan gadis kecil itu, tapi Edelweis sangat senang mengetahui bahwa kue cubitnya sudah habis laku terjual.
Dari cerita diatas, ada beberapa hal yang dapat Edelweis pelajari. Pertama, gunakanlah etika yang baik dalam situasi apapun. Memang, pembeli adalah raja, yang harus dilayani. Namun, pembeli seharusnya juga menyadari situasi dan kondisinya. Apakah dengan menjadi raja, sang pelayan harus menderita? Think twice.
Kedua, akhirnya Edelweis bisa mengomentari pernyataan adek Edelweis yang menyatakan seharusnya pembeli itu tidak membeli kue cubit gadis kecil itu, seharusnya pembeli itu harus tau kondisi yang lagi hujan seperti itu. Nah, Edelweis kurang setuju dengan pernyataan ini. Bagi kita yang melihat drama itu, mungkin bakalan berpikir demikian, namun coba kita pikirkan bagaimana keinginan gadis kecil itu. Tentu ia ingin kue cubitnya habis laku terjual, dan mendapatkan uang yang mungkin sangat ia butuhkan. Bila kue cubitnya tidak dibeli, maka ia tidak akan mendapatkan uang. Mungkin ia akan jauh lebih sedih. Jadi diralat ya pernyataannya itu, sang pembeli bukannya harus tidak membeli, namun membelilah dengan etika yang benar dan gunakanlah hati nurani.
Terakhir yang dapat diambil sebagai pelajaran adalah selalu ada hikmah dibalik peristiwa yang kita alami. Dimana Edelweis yang cukup kecewa karena gagal menonton film ke bioskop akhirnya digantikan dengan pelajaran yang sangat berharga malam ini. Lebih menghargai, lebih beretika, dan peka lah terhadap situasi dan kondisi.
Mungkin itulah drama singkat yang ingin Edelweis bagikan pada rubrik #JurnalEdelweis kali ini. Komentar, kritik dan saran sangat ditunggu. Nantikan #JurnalEdelweis berikutnya. Terimakasih buat yang sudah membaca ^^.

Komentar