Perjuangan
Mama
Aku menggeliat ketika sesuatu
yang dingin menyentuh kulit lenganku lembut. Kelopak mataku terlalu berat untuk
diangkat, hingga aku memutuskan untuk memaksa indra penciumanku bekerja di pagi
buta. Wangi parfum lavender yang khas seketika menyeruak, menusuk hidungku dan
membuatku tahu siapa pemilik wangi itu. Aku masih setia dengan kasurku yang
empuk sambil menunggu suara omelan yang sudah menjadi alarm otomatisku.
Aku
masih bermimpi, pikirku. Suara yang memanggilku barusan berasal dari tokoh yang
sedang bermain peran di mimpiku.
“Rhisa!
Rhisa! Hei, hei, bangun Rhis!”
Suara
itu semakin lantang. Aku benar-benar kagum dengan tokoh di mimpiku yang
berusaha memanggil-manggilku. Suara itu semakin keras, semakin jelas, dan
semakin terasa nyata. Aku menggeliat ketika tiba-tiba merasakan hembusan napas
tepat di telinga kananku yang diikuti oleh teriakan alarm otomatisku.
“RHISAAAAA!!!
“ Aku tersentak seketika, dan tanpa
pikir panjang aku langsung duduk sambil melihat kearah mama yang sudah siap
berdandan. Aku menatap jam dindingku yang menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dahiku
mengerut, mencoba memikirkan alasan apa yang akan diucapkan mama sehingga mama
sudah berdandan rapi di pagi buta seperti gini.
“Mama
mau kemana pagi-pagi buta kayak gini?” tanyaku bingung. Mama menghela napas
panjang.
“Kamu
mau daftar kuliah tahun ini atau tahun depan?”
“Ya
tahun ini dong, Ma.” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Pertanyaan
mama sangat aneh dan cukup membuatku bingung. Setelah benar-benar sadar, aku
ingat bahwa hari ini adalah jadwal daftar ulangku di perguruan tinggi. Aku
mulai mengerti maksud pertanyaan mama tadi, bahwa aku harus segera bersiap-siap
karena bila telat, antrian yang akan aku lalui sangatlah panjang. Hari ini
entah mengapa aku sangat bahagia, membayangkan bahwa aku sudah melepaskan
seragam abu-abuku, dan segera menyambut statusku sebagai mahasiswa baru.
“Kamu
tahu kan pendaftaran dibuka pukul berapa?” tanya mama sambil menatapku tajam.
Aku
mengangguk.
“Jam
7 Ma,” jawabku singkat diiringi dengan senyum kebahagiaan.
“Iya
benar sekali.” Kali ini mama tersenyum, senyum yang tak bisa kuartikan. “Kalau
gitu kamu segera siap-siap ya, jangan salahkan Mama bila kamu masuk kuliahnya
tahun depan.”
Mama
yang sudah lengkap dengan Tas Channel nya berjalan keluar menuju pintu kamarku.
Tiba-tiba mama berhenti dan berbalik menghadapku.
“Mama
lupa kasih tahu, kalau jam dinding di kamarmu itu batrai nya abis, dan itu
telat kurang lebih dua jam.”
“APAAAA?!!”
Aku langsung meloncat ke kamar mandi.
*****
“Maaa
cepat maaaa!!” kataku yang duduk di kursi belakang motor.
Mama
menggoncengku menuju ke perguruan tinggi tempat aku akan berkuliah. Sepuluh
menit lagi pendaftaran akan dibuka. Aku menyesal tidak bangun lebih awal.
Alhasil, kini aku dan mama berpacu dengan angin menembus dinginnya udara pagi. Untuk
kesekian kalinya aku menatap jam tanganku yang sedikit lagi mendekati jarum dua
belas. Aku panik, begitu pula dengan mama. Aku tak tahu berapa kecepatan motor
kami saat ini, yang pasti aku sudah seperti angina yang melayang dijalanan
pagi.
Mama
semakin mempercepat laju sepeda motor kami, sebelum tadinya kami sudah melewati
macetnya jalan raya yang dipenuhi oleh orang-orang yang serba terburu-buru. Aku
memeluk mama yang serius mengendarai motor. Aku baru menyadari bahwa mama tidak
memakai jaketnya, dan aku tahu betul udara pagi ini sangatlah dingin. Kasihan
sekali mama, pikirku.
Aku
melihat-lihat ke sekelilingku. Tiba-tiba aku mendengar suara rem dadakan yang
ternyata berasal dari motorku. Seketika aku dan mama terhempas ke aspal yang
keras dan dingin. Aku mencoba menggerakkan kakiku yang tersangkut oleh
keranjang besar yang dibawa oleh sebuah sepeda motor. Semua orang langsung
berlari kearah aku dan mama, membantu kami berdiri dan menggiring motor kami ke
pinggir jalan. Aku menghampiri mama yang tengah berbicara serius dengan nada
yang cukup tinggi kepada seorang lelaki yang membawa keranjang di motornya
tadi.
Aku
masih membelakangi mama. Bibirku bergetar, dan jantungku berdetak cepat. Aku
melihat celana jeansku yang robek, dan sikuku yang tergores aspal. Aku menunggu
mama berunding, dan hasil kesepakatan adalah bahwa lelaki tadi akan membawa
kami ke rumah sakit sebagai ganti rugi.
Aku
berjalan, menunduk mengikuti langkah mama menuju rumah sakit. Tiba-tiba aku
melihat tetesan darah yang juga ikut mengiringi langkah kami. Aku menatap wajah
mama. Dan ternyata darah itu berasal dari sana, dari kedua bola mata mama.
“M..maa…”
panggilu dengan suara serak.
“Kenapa
Nak?”
Aku
menghentikan langkah mama.
“Maa..
itu.. mata..da...darah.”
Aku
menangis sambil menggenggam erat tangan mama. Mama terlihat berusaha menghapus
darah yang mengalir, namun darah itu tetap tak berhenti mengalir.
“Mama
nggak papa, Rhisa jangan khawatir, nanti di rumah sakit kita obati.”
“Maafkan
Rhisa, Ma. Maafkan Rhisa,” kataku sambil terisak.
Mama
membelai kepalaku dan langsung menggiringku yang tengah menangis menuju rumah
sakit. Aku benar-benar menyesal tidak mendengarkan peringatan mama untuk bangun
pagi. Aku berjanji dalam hati untuk tidak lalai lagi. Aku tak ingin orang yang
kusayangi menderita hanya gara-gara kecerobohanku.
Blog post ini dibuat dalam rangka
mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan
Storial.co

Komentar
Posting Komentar